Tuesday, Sep 07th

Last update:12:51:06 AM GMT

  •  
  •  
You are here: Pariwisata Wisata Budaya Jembul, Sedekah Bumi Desa Tulakan

Jembul

E-mail Print PDF
jembul
jembul1
jembul2

Tradisi Jembul Tulakan Lambang Keseniaan Terhadap Ratu Kaliyamat

Ora pisan-pisan ingsun jengkar soko topo ingsun yen ora ingsun during bisa nganggo jembule Aryo Penangsang. Itulah sumpah dari Ratu Kaliyamat yang membalas dendam atas kematian suaminya Sunan Hadiri yang dibunuh oleh Aryo Penangsang. Dan sumpah itu, konon diyakini masyarakat Alas Tuwo (red, Sekarang Tulakan), tidak akan berhasil tanpa dorongan moril dari masyarakat. Maka masyarakat Tulakan kala itu membantu secara moril dengan jalan mengadakan upacara ritual yang disebut dengan istilah Jembul Tulakan agar cita-cita sang ratu segera berhasil dan terwujud.

Upacara Jembul Tulakan merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat Tulakan kepada Tuhan Yang Maha Esa penguasa alam semesta, atas kesuburan tanah yang memberikan penghidupan bagi penduduk. Tanah yang semula tidak berfungsi bahkan diyakini merupakan tempat angker, berkumpulnya jin dan lelembut menjelma menjadi pendukuhan yang subur dengan masyarakat yang hidup rukun, tenteram, dan damai.

Ungkapan rasa syukur tersebut sekaligus disampaikan kepada leluhur serta pendahulu yang dianggap berjasa pada perkembangan penduduk tersebut. Ratu Kaliyamat merupakan tokoh wanita Jepara yang dikaitkan dengan kebesaran dukuh Tulakan.

Konon dirwayatkan pada zaman kejayaan Ratu Kaliyamat, masyarakat Alas Tuwo kala itu menyakini bahwa sang ratu mempunyai tempat untuk melakukan semedi di desa itu. Melalui cerita dari mimpi yang dialami oleh 8 (delapan) orang warga penduduk setempat pada waktu bersamaan yakni pada malam Jum`at Wage, mengisyaratkan Ratu Kaliyamat meminta kepada mereka untuk mencari tempat pertapaannya dan merwat dengan sebaik-baiknya.

Oleh Ki Demang Barata (pemimpin desa kala itu) mereka dianjurkan untuk minta petunjuk kepada Kyai Kasbullah dari kedemangan Kajen Pati. Dan atas petunjuk beliau mereka melakukan tirakat untuk mencari petunjuk letak bekas pertapan Ratu Kaliyamat, dengan cara mendatangi tempat-tempat yang diangap wingit. Tempat tersebut akhirnya ditemukan dan dianggap sebagai lokasi pertapaan sang ratu yaitu di Dukuh Sonder. Keyakinan ini karena di tempat itu di temukan dua buah bumbung (tabung bamboo) yang satu berisi catatan tentang kisah pertapaan Ratu Kaliyamat, sedang satunya berisi bodholan rambut (kumpulan rambut yang patah) dan sangat panjang yang diperkirakan rambut Ratu Kaliyamat.

Bumbung tersebut kemudian di kebumikan di bawah pohon yang sangat besar di pertapan tersebut. Hal ini menjadi kebiasaan warga kademangan Tulakan, setiap malam Jum’at Wage selalu mengadakan tradisi manganan di tempat ratu bertapa.

Kemudian pada hari Senin Pahing para Nayoko Projo (para pembesar negara) menghadap ratu dengan membawa peghormatan berupa kebutuhan dan perlengkapan sang ratu.

Sebagai langkah untuk meningkatkan laku topo broto yang dilakukan oleh Nyai Ratu Kalinyamat di Dukuh Sonder, maka setiap tahun pada bulan Apit (Dlulkaidah) tepatnya hari Senin Pahing, selalu diadakan upacara syukuran yang kemudian dikenal dengan sedekah bumi, sebagai tanda syukur kepada Tuhan atas rizki yang dilimpahkan pada penduduk.

Dan pada malam Jum`at Wage sebelumnya didahului dengan manganan di punden tempat Nyai Ratu bertapa. Sedekah bumi diartikan sebagai sedekah (amal) dari hasil bumi yang diwujudkan dengan berbagai wujud makanan kecil. Sebagai tanda bakti penduduk pada ki Demang (pemimpin) yang sudah memimpin pedukuhan, maka masing-masing mengantarkan makanan kecil ke rumah Ki Demang. Makanan tersebut diletakkan dalam dua ancak dan di atas makanan kecil ditanamkan belahan bambu yang diirat tipis-tipis yang melambangkan rambut jambul yang diatur sedemikian rupa.

Ancak dengan rambut jambul dari iratan bambu tipis tersebut dinamakan Jembul Tulakan. Jembul merupakan perlambangan dari ungkapan yang diucapkan oleh Ratu Kalinyamat waktu menjalani pertapaan, yaitu” ora pati-pati wudhar tapaningsun yen during keramas keset jumbule Aryo Panangsang” yang dapat berarti tidak akan menyudahi topo kalau belum keramas dengan darah dan keset rambut Aryo Penangsang.

 

Simbol-Simbol Upacara

Dalam pelaksanaan upacara jembul Tulakan ini, menyuguhkan dua macam jembul. Yang besar di depan disebut Jembul Lanang, sedang yang kecil berada dibelakang disebut Jembul Wadon. Jembul Lanang dihiasi dengan iratan bambu tipis, yang berisi bermacam-macam makanan kecil, seperti jadah (gemblong), tape ketan, wajek, apem, dan sebagainya. Sedang Jembul Wadon tanpa hiasan yang berisi nasi dan lauk pauknya.

Jumlah jembul disesuaikan dengan jumlah pedukuhan yang dipimpin oleh kepala-kepala dukuh atau Kamituwo. Pertama, Jembul Krajan, yaitu jembul dari pendukuh-Dukuh Krajan, tempat kediaman Ki Demang sebagai pusat pemerintahan kademangan, yang mempunyai ciri khas berupa golek yang menggambarkan seorang tokoh bernama Sayid Ustman, seorang Noto Projo Ratu Kalinyamat. Kedua, Jembul Ngemplak merupakan wujud dari penghargaan masyarakat untuk Ki Leboh atas segala perjuangannya membuka pendukuhan Ngemplak, sebagai identitas dibuatkan golek dari tokoh yang bernama Mangun Joyo seorang Nayoko Ratu Kalinyamat. Ketiga, Jembul Winong adalah penghargaan terhadap Ki Buntari, sebagai perlambang dari tokoh tersebut dibuat golek yang merupakan barisan prajurit yang gagah perkasa yang mengawal dan mengamankan keberangkatan Ratu Kalinyamat dari Kadipaten Jepara sampai pertapaan siti Wangi  Sonder. Keempat, Jembul Droji merupakan pempnghargaan terhadap Ki Purwo atas segala jasanya membuka perdukuhan, sebagai perlambang dibuat golek yang menggambarkan seorang tokoh Mbah Leseh seorang Nayaka Ratu Kalinyamat.

 

Prosesi upacara

Upacara Jembul Tulakan dimulai dengan mencuci kaki petinggi (kepada desa) dengan kembang setaman, sebagai perlambang penghormatan kepada Ratu Kalinnyamat. Kini, masyarakat lebih memaknai sebagai bentuk permohonan agar tercipta kehidupan yang tenteram, bersih dari mala petaka dan segala kesulitan yang menimpa penduduk. Sekaligus untuk mengingatkan petinggi agar selalu bersih dalam segala tindakan dan langkahnya, tidak melanggar larangan agama, hukum maupun perintahan, serta jujur dan adil.

Dilanjutkan selamatan sebagai lambang permohonan kepada Tuhan agar desa tetap selamat sentosa dan hasil bumi melimpah ruah sehingga kehidupan penduduk menjadi sejahtera. Inti dari ucapan adalah mengelilingi (mengitari) Jembul sebanyak 3 kali oleh petinggi diikuti semua perangkat serta penari tayub, yang menggambarkan kembali suasana pada waktu Ratu Kalinyamat melakukan pemeriksaan terhadap para nayoko projo yang datang menghadap sekaligus menyerahkan hulu bekti, dan sekarang lebih diartikan sebagai pengingat agar pemimpin desa selalu menyempatkan diri untuk memberi perhatian pada staf perangkat desanya. (Sulastri)